Sidoarjo – Upaya mencegah dan mengendalikan hipertensi tidak cukup hanya dengan mengetahui tekanan darah. Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan di Desa Kemantren, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, pada 27 Juli hingga 17 Agustus 2026. Kegiatan yang melibatkan masyarakat, kader Posyandu, kader PKK, dan perangkat desa ini berfokus pada edukasi serta pendampingan masyarakat, khususnya lansia dan warga yang memiliki risiko hipertensi.
Rangkaian kegiatan dilakukan secara bertahap, mulai dari edukasi mengenai hipertensi, pola makan sehat, aktivitas fisik dan gaya hidup sehat, pemantauan tekanan darah, kepatuhan minum obat, hingga pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti edukasi. Rata-rata nilai pengetahuan meningkat dari 58% pada pre-test menjadi 84% pada post-test. Sebanyak 13 dari 15 peserta atau 86,7% mengalami peningkatan nilai, sementara tidak terdapat peserta yang mengalami penurunan nilai.
Selain itu, masyarakat juga mendapatkan pendampingan mengenai pola makan sehat. Materi yang diberikan menekankan pembatasan konsumsi garam, pengurangan makanan tinggi lemak dan makanan instan, serta peningkatan konsumsi sayur dan buah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aktivitas fisik dan gaya hidup sehat pada. Sebanyak 15 lansia mengikuti materi dan praktik gerakan sederhana serta peregangan. Dari jumlah tersebut, 13 peserta atau 86,7% mampu memperagakan gerakan sesuai arahan, sedangkan dua peserta lainnya masih memerlukan bantuan. Praktik langsung dan permainan membuat kegiatan berlangsung lebih interaktif sekaligus mendorong keterlibatan peserta.
Keterlibatan kader juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan pemantauan kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan ini, kader diharapkan dapat membantu mengingatkan masyarakat untuk melakukan pemantauan tekanan darah dan menjaga kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan.
“Kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat karena warga tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga diajak untuk langsung mempraktikkan dan membiasakan diri melakukan pemantauan kesehatan. Kami berharap kebiasaan ini bisa terus dilanjutkan oleh warga setelah kegiatan selesai.” — [Bidan Lusi],
Pemantauan tekanan darah dilakukan terhadap 15 warga yang merupakan penderita hipertensi maupun warga yang memiliki risiko hipertensi. Selama tujuh hari, peserta menggunakan checklist untuk mencatat kondisi dan aktivitas pemantauan mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa 14 peserta atau 93,3% menilai leaflet yang diberikan mudah dipahami. Seluruh peserta mengisi data diri serta mencatat tekanan darah awal dan akhir, sementara 13 peserta atau 86,7% mampu melakukan pengisian checklist harian dengan baik. Menariknya, sebanyak 11 peserta atau 73,3% mulai memanfaatkan alarm telepon seluler maupun bantuan keluarga sebagai pengingat untuk minum obat. Hal ini menunjukkan mulai munculnya upaya peserta untuk membangun kebiasaan yang dapat membantu menjaga kepatuhan terhadap pengobatan.
Meski demikian, kepatuhan terhadap pengobatan masih menjadi salah satu tantangan. Dari 15 peserta, sebanyak tujuh orang atau 46,67% masuk dalam kategori patuh, sedangkan delapan orang atau 53,33% masih tergolong kurang patuh karena melewatkan sedikitnya satu indikator kepatuhan. Selain pemantauan hipertensi, masyarakat juga diperkenalkan dengan pemanfaatan TOGA sebagai bagian dari edukasi kesehatan. Dari 15 peserta, sebanyak 13 orang atau 86,7% mampu mengenali TOGA yang diperkenalkan, memahami pengolahan yang benar, serta mempraktikkan pembuatan produk sederhana.
Secara keseluruhan, kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Kemantren menunjukkan bahwa edukasi yang dipadukan dengan praktik dan pemantauan dapat membantu meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi. Keberlanjutan program dapat dilakukan melalui pemantauan berbasis checklist secara berkala dengan melibatkan kader Posyandu dan keluarga. Edukasi mengenai pola makan, aktivitas fisik, pemeriksaan tekanan darah, serta kepatuhan konsumsi obat juga perlu dilakukan secara berulang agar pengetahuan yang telah diperoleh dapat berkembang menjadi kebiasaan hidup sehat di masyarakat.
